28 views 9 mins 0 comments

Di Bawah Bayang-Bayang Moralitas Malam

In Kolektif
September 30, 2026

Beberapa hari lalu, kawan perempuanku berkata, “Ini terakhir kali kita berjumpa, bermain, dan bercengkerama.” Kalimat itu seketika membuat mataku membelalak. Ia memutuskan bahwa dirinya dilarang oleh sang ibu. Aku bertanya dengansingkat, “Sebab, apa? Aku kah yang membuat dirimudibatasi?” Dari sekian banyaknya pertemuan aku dan dirinya, saat itu adalah momen terpenting. Sebab, kami mengulik secara seksama ihwal permasalahan itu. Dari sinilah cerita itu dimulai…

***

Saat angin mulai menerobos celah pori-pori kulitku dan sedikit demi sedikit kawan mulai berpamitan: aku dan kawan perempuanku itu tetap setia duduk di warung kopi itu. Ia bercerita, sebelum berangkat ke sini sudah terjadipertengkaran kecil dengan ibunya. Bukan dengan teriakan keras, melainkan sebuah pesan panjang di antara mereka dari balik komputer masing-masing. Sang ibu mempertanyakan perihal kepergian anak perempuannya di malam hari yang sering pulang dini hari. Tak hanya itu, ibunya juga mempertanyakan momen ketika ia pulang saat umat muslimbersiap menunaikan salat di sepertiga malam.

Kawanku mulai membela diri dan menampik tuduhan itu dengan segala penjelasan. Untuk apa memusingkan asumsiorang lain tentang baik-buruknya diri, selagi tidak merugikan siapa pun? Mengapa harus memikirkan cemooh tetangga—halyang lumrah terjadi dan jelas di luar kendali kita? Ia terusmenggugat ibunya, menegaskan bahwa mereka tak perlu menyibukkan pikiran dengan label dari masyarakat. Ada hal-hal yang jauh lebih penting untuk dikerjakan daripada memusingkan omongan tetangga yang sudah melampaui batas. Tapi, dalam pesan itu ibu kembali menegaskan: 

“Sebab ibu memikirkan citra ibu sebagai seorang ibu. Di sini, aku adalah ibumu. Di masyarakat, aku dilihat sebagaiseorang ibu untuk anakku, kamu!” Kalimat ini membuat keheningan sejenak di antara keduanya. Sama-sama berpikir. Hingga akhirnya, pertikaian antara ibu dan anak itu diakhiridengan salah satunya yang mengalah. Ia akhirnya meruntuhkan egonya untuk beradu argumen terkait siapa yang berhak melabeli dan siapa yang seharusnya lebih berhak untuk tidak peduli.

Lalu, saat itu, ia juga berkata padaku, “Dan inilah waktu yang terakhir itu, untuk kita keluar, untuk kita bersama.” 

Karena ini perjumpaan terakhir, hanya satu hal yang ia mintakepada ibunya: jangan lagi mencarinya lewat rentetan panggilan telepon di penghujung malam. Biarkan ia bebas mengeksplorasi dunia bersama teman-temannya melewatimalam dalam diskusi tak berkesudahan tentang kerentanan perempuan. Ada kehangatan dan kesenangan saat ia berkumpul bersama perempuan lain yang bernasib sama: mereka yang kerap dijadikan tolok ukur moralitas masyarakat, hanya untuk dinilai apakah seorang ibu sudah cukup berhasil mendidik anaknya.

***

Dalam perjalanan pulang itu, aku bertanya-tanya dalam diri: mengapa? Hanya sebab aku terlahir sebagai perempuan, takbolehkah untuk pergi keluar rumah malam hari yang biasanyadilakukan anak lelaki? Hanya beberapa kali perjumpaan itu dilakukan, tak sesering yang dilakukan oleh lelaki setiap malamnya, mengapa lebih banyak omongan tidak mengenakkan yang ditujukan kepada kami, perempuan? Mengapa ketika perempuan beraktivitas di malam hari denganurusannya masing-masing, seolah menjadi tolak ukur kegagalan seorang ibu dalam mendidik anaknya? Dan mengapa hanya kepada ibu standar sosial itu lebih kencangdikeraskan? Seolah urusan domestifikasi dan perawatanhanyalah milik perempuan: ibu, istri, dan anak perempuan.

Tubuh perempuan seolah-olah memiliki tanggung jawab untuk mengatur segala kondisi di rumah. Membersihkan, merawat, mendidik, mengasuh, dan menjaga nama baik dirisendiri maupun nama keluarga. Tak hanya itu, secuil kotarandebu yang menempel di kaca jendela saja menjadi tugasperempuan tak tertulis. 

Sejak kapan tubuh perempuan menjadi alat untuk mengukur moralitas individual dan keberhasilan keluarga? Rasanya tidak adil ketika lelaki dengan bebas berkeliaran di luar, melepastanggung jawab dan kewajibannya di ranah domestik sebagai ayah, suami, dan anak lelaki tanpa dibebani stigma sosialyang mengukur moralitas. Negara ini sudah merdeka, dan beberapa bulan kemarin baru saja merayakannya. Lebih darilima puluh tahun berdikari. Tetapi belum sanggup melepaskandiri dari konstruksi sosial yang berakar pada patriarki. Termasuk di ranah paling sempit, di rumah, ruang pribadimilik keluarga.

“Merdeka,” katanya. Namun, mari kita perjelas: merdeka yang mana dan untuk siapa? Jika memang sudah merdeka, bukankah setiap individu baik laki-laki maupun perempuan berhak atas kebebasan bergerak tanpa selalu dituntut oleh beban kewajiban domestik? Atau, mungkinkah sejak awal kemerdekaan itu memang dirancang dan hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki? Termasuk stigma yang sengaja dilekatkan pada perempuan, seolah menjadi mekanismeterencana untuk mempersempit ruang gerak kita. Bukankah ruang hidup ini milik bersama, bukan panggung tunggal untuk dinikmati laki-laki saja?

Hingga hari ini, rentetan pertanyaan itu belum ada yang bisa menjawabnya. Tapi aku memilih melawan, karena dirikuadalah manusia yang punya suara. Dan perempuan akan melawan pada ketidakadilan. Biarlah orang memberiku cap sebagai anak perempuan yang tidak baik sebab banyaknya aktivitas di luar rumah. Pun, jika ibuku yang terkena imbasatas stigmatisasi tersebut, sebagai ibu yang gagal mendidik. Terlebih anak perempuan yang harus menurut seperti ibunya. Sebagai perempuan, aku memiliki otoritas penuh atas tindakan yang dilakukan oleh tubuhku dalam beraktivitas sosial. Dan sebagai perempuan pula, aku memiliki kebebasan kntuk memilih tidak peduli pada standar moralitas yang dibuat masyarakat untuk mengontrol tubuhku yang seharusnya sebagaimana ketika bertindak.

Najwa Firdaus Azkiyah
/ Published posts: 1

Pegiat isu literasi dan isu gender yang lebih suka kucing daripada manusia