Ketika Menjadi Laki-Laki Berarti Harus Menyediakan: Menyoal Peran Gender dalam Relasi
Kalau Dia Laki-Laki, Masa Iya Tidak Membayar? Ada kalimat-kalimat sederhana yang terdengar seperticandaan, tetapi diam-diam membawa sebuah aturan. Laki-lakiharus membayar ketika berkencan. Laki-laki seharusnyamenjemput. Laki-laki harus menjadi pihak yang lebih banyakmenyediakan. Sementara perempuan cukup menerima, dilayani, atau sesekali membalasnya sebagai bentukpenghargaan. Tidak semua orang tentu berpikir demikian. Banyak pasanganjuga telah menjalani hubungan dengan pembagian peran yang jauh lebih fleksibel. Namun, anggapan bahwa laki-lakisemestinya menjadi pihak yang menyediakan masih mudahditemukan dalam cara kita membicarakan hubungan romantis. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar, “Siapa yang harusmembayar?” Ada pertanyaan yang lebih besar: mengapakemampuan menyediakan begitu mudah dilekatkan kepadalaki-laki? Ketika Laki-Laki Diharapkan Selalu Menyediakan Bayangkan dua orang yang sama-sama mahasiswa. Keduanyabelum memiliki penghasilan tetap. Ketika makan bersama, apakah selalu menjadi kewajiban laki-laki untuk membayar? Ketika hendak bertemu, apakah laki-laki harus selalumenjemput? Jika sekali waktu perempuan yang datangmenghampiri atau membayar makanan, apakah hubungantersebut menjadi kurang romantis? Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam inimemperlihatkan bahwa persoalannya bukan pada tindakanmembayar atau memberi itu sendiri. Memberi kepadapasangan tentu bukan sesuatu yang keliru. Bahkan, perhatianmemang sering kali diwujudkan melalui pemberian. Yang menarik adalah ketika tindakan tersebut berubah menjadikewajiban berdasarkan jenis kelamin. Seorang laki-laki dapat membayar karena ia ingin mentraktir. Ia dapat menjemput karena sedang memiliki waktu dan kesempatan. Ia dapat memberikan sesuatu karena inginberbagi. Namun, ketika semua itu dianggap sebagai sesuatuyang harus dilakukan karena ia laki-laki, pemberian tidak lagisepenuhnya menjadi pilihan personal. Di sana ada norma yang bekerja. Dengan kata lain, yang perlu dipertanyakan bukan mengapalaki-laki mau menyediakan, tetapi mengapa menjadi laki-lakimembuat seseorang dianggap lebih bertanggung jawab untukmenyediakan. Ketika “Laki-Laki” Datang Bersama Sebuah Tuntutan Menjadi laki-laki ternyata tidak selalu dipahami hanyasebagai identitas. Di dalam masyarakat, menjadi laki-laki juga sering disertai seperangkat harapan: kuat, mandiri, mampumelindungi, tidak mudah bergantung, dan mampubertanggung jawab secara ekonomi. Harapan tersebut merupakan bagian dari konstruksi gender. Gender bukan hanya berbicara tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga tentang bagaimanamasyarakat membentuk gagasan mengenai perilaku yang dianggap pantas bagi keduanya. Raewyn Connell menjelaskan bahwa maskulinitas berkaitandengan posisi laki-laki dalam relasi gender dan terbentukmelalui pola praktik sosial. Karena itu, maskulinitas tidakbersifat tunggal; ia dapat berbeda menurut tempat, waktu, dan konteks sosial. Salah satu bentuk maskulinitas yang memperoleh posisi kuat dalam banyak konteks adalahgambaran laki-laki sebagai sosok yang mandiri, kuat, dan mampu menjadi penyedia (Connell, 2005). Maka, ketika seorang laki-laki tidak mampu menyediakansesuatu, persoalannya kadang tidak berhenti pada kondisiekonomi. Ia juga dapat berhadapan dengan pertanyaan sosialtentang kelaki-lakiannya: “Masa laki-laki tidak bisa?” Di titik inilah tuntutan gender menjadi menarik. Sebab, laki-laki tidak hanya diminta untuk memiliki kemampuan, tetapijuga dapat dinilai berdasarkan kemampuan tersebut. […]
