Beberapa hari lalu, kawan perempuanku berkata, “Ini terakhir kali kita berjumpa, bermain, dan bercengkerama.” Kalimat itu seketika membuat mataku membelalak. Ia memutuskan bahwa dirinya dilarang oleh sang ibu. Aku bertanya dengansingkat, “Sebab, apa? Aku kah yang membuat dirimudibatasi?” Dari sekian banyaknya pertemuan aku dan dirinya, saat itu adalah momen terpenting. Sebab, kami mengulik secara seksama ihwal permasalahan itu. Dari sinilah cerita itu dimulai… *** Saat angin mulai menerobos celah pori-pori kulitku dan sedikit demi sedikit kawan mulai berpamitan: aku dan kawan perempuanku itu tetap setia duduk di warung kopi itu. Ia bercerita, sebelum berangkat ke sini sudah terjadipertengkaran kecil dengan ibunya. Bukan dengan teriakan keras, melainkan sebuah pesan panjang di antara mereka dari balik komputer masing-masing. Sang ibu mempertanyakan perihal kepergian anak perempuannya di malam hari yang sering pulang dini hari. Tak hanya itu, ibunya juga mempertanyakan momen ketika ia pulang saat umat muslimbersiap menunaikan salat di sepertiga malam. Kawanku mulai membela diri dan menampik tuduhan itu dengan segala penjelasan. Untuk apa memusingkan asumsiorang lain tentang baik-buruknya diri, selagi tidak merugikan siapa pun? Mengapa harus memikirkan cemooh tetangga—halyang lumrah terjadi dan jelas di luar kendali kita? Ia terusmenggugat ibunya, menegaskan bahwa mereka tak perlu menyibukkan pikiran dengan label dari masyarakat. Ada hal-hal yang jauh lebih penting untuk dikerjakan daripada memusingkan omongan tetangga yang sudah melampaui batas. Tapi, dalam pesan itu ibu kembali menegaskan: “Sebab ibu memikirkan citra ibu sebagai seorang ibu. Di sini, aku adalah ibumu. Di masyarakat, aku dilihat sebagaiseorang ibu untuk anakku, kamu!” Kalimat ini membuat keheningan sejenak di antara keduanya. Sama-sama berpikir. Hingga akhirnya, pertikaian antara ibu dan anak itu diakhiridengan salah satunya yang mengalah. Ia akhirnya meruntuhkan egonya untuk beradu argumen terkait siapa yang berhak melabeli dan siapa yang seharusnya lebih berhak untuk tidak peduli. Lalu, saat itu, ia juga berkata padaku, “Dan inilah waktu yang terakhir itu, untuk kita keluar, untuk kita bersama.” Karena ini perjumpaan terakhir, hanya satu hal yang ia mintakepada ibunya: jangan lagi mencarinya lewat rentetan panggilan telepon di penghujung malam. Biarkan ia bebas mengeksplorasi dunia bersama teman-temannya melewatimalam dalam diskusi tak berkesudahan tentang kerentanan perempuan. Ada kehangatan dan kesenangan saat ia berkumpul bersama perempuan lain yang bernasib sama: mereka yang kerap dijadikan tolok ukur moralitas masyarakat, hanya untuk dinilai apakah seorang ibu sudah cukup berhasil […]
Home > Articles posted by Najwa Firdaus Azkiyah
FEATURE
