20 views 13 mins 0 comments

Aku, yang Berakar dari Kekurangan

In Isu, Serba-serbi
September 05, 2026

Aku hidup dengan perasaan bahwa kemiskinan bukan sekadar angka yang tertulis di atas kertas, melainkan sesuatu yang tumbuh pelan-pelan di dalam tubuh, seperti akar rambat yang mencari celah di antara rusuk. Ia menyelinap ke dalam cara mataku memandang dunia, ke dalam tanganku yang selalu berhitung sebelum mengambil sesuatu, ke dalam kepalaku yang bahkan tidak mampu membayangkan masa depan tanpa terlebih dahulu menghitung berapa harga yang harus dibayar untuk sampai ke sana. Aku masih bisa makan. Aku masih dapat menyalakan lampu, membuka layar, dan merasakan internet mengalir lancar ke dalam kamar yang mungkin bagi orang lain terasa sederhana, tetapi bagiku adalah satu-satunya tempat untuk menutup pintu dari dunia. 

Karena itu, aku sering merasa tidak berhak menyebut diriku sengsara. Selalu ada seseorang yang tidur di bawah jembatan, seseorang yang makan lebih sedikit dariku, seseorang yang bahkan tidak tahu kapan makanan berikutnya akan datang. Maka setiap kali kesedihan datang, aku merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah sedang menangisi nasib sendiri. Aku membandingkan lukaku dengan luka orang lain, lalu memutuskan bahwa bilurku terlalu kecil untuk disebut gering. Barangkali begitulah kemiskinan bekerja paling kejam: bukan hanya membuat seseorang kekurangan sesuatu, tetapi juga mengajarinya untuk merasa bersalah ketika menginginkan sesuatu.

Rumahku pun berdiri dengan cara yang ganjil, seolah-olah ia sendiri belum yakin apakah ingin disebut rumah atau sekadar tempat berlindung dari hujan. Bata-bata merah ditumpuk menjadi dinding, satu di atas yang lain, seperti tulang-tulang yang dipaksa membentuk tubuh tanpa pernah diberi kesempatan menjadi utuh. Asbes memanggang di kala terik dan menyapu dingin di kala malam memanggil. Tidak ada kemegahan yang dapat diceritakan tentangnya. Tidak ada fondasi kokoh yang membuatku percaya bahwa rumah ini akan tetap berdiri ketika puluhan tahun telah berlalu. Ia hanya ada, bertahan sebagaimana aku bertahan. 

Kadang aku memandang dinding itu lamat-lamat dan merasa kami memiliki nasib yang serupa: sama-sama disusun dari hal-hal seadanya, sama-sama menanggung beban yang terlalu berat untuk ukuran kami, sama-sama berdiri bukan karena kami cukup kuat, melainkan karena belum ada pilihan untuk runtuh. Aku tidak tahu apakah rumah ini akan menjadi tua bersamaku atau roboh lebih dahulu. Namun setiap retakan yang muncul membuatku berpikir bahwa mungkin beginilah bentuk kehidupan yang diwariskan kepadaku: sesuatu yang harus terus diperbaiki meskipun aku sendiri tidak pernah memiliki cukup bahan untuk membuatnya benar-benar selesai.

Untuk urusan perut, aku memang tidak selalu kelaparan. Masih ada nasi di atas meja, masih ada air yang dapat kuteguk. Sesekali aku bahkan dapat membeli camilan yang kuinginkan, sesuatu yang sederhana, sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak lebih dari recehan yang berpindah tangan tanpa perlu dipikirkan kembali. 

Tetapi bagiku, uang memiliki ingatan. Ia seperti pasir yang kugenggam terlalu erat: semakin kusadari keberadaannya, semakin cepat ia lolos dari sela-sela jemari. Setiap kali memasukkan makanan ke mulut, ada bagian dalam diriku yang ikut menghitung berapa banyak yang baru saja hilang. Aku bisa merasakan manisnya, asin atau gurihnya, hangat yang turun perlahan ke perut; tetapi di belakang semua kenikmatan itu selalu ada bayang-bayang kecil yang bertanya, “apakah kau benar-benar perlu menghabiskan uang untuk ini?” 

Maka makanan yang seharusnya menjadi penghiburan terkadang berubah menjadi semacam utang yang harus kubayar dengan penyesalan. Aku kenyang, tetapi tidak sepenuhnya lega. Seperti seseorang yang menemukan air di tengah padang pasir, lalu menolak meminumnya terlalu banyak karena takut perjalanan masih terlalu panjang.

Kemiskinan, rupanya, juga tidak selalu membuat seseorang kehilangan sesuatu secara langsung. Kadang ia hanya mengajari seseorang untuk merasa bersalah setiap kali menginginkan sesuatu. Ia menyusup perlahan ke dalam kepala, menjadi suara yang begitu akrab sampai-sampai sulit dibedakan dari suara hati sendiri. Lama-lama aku tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk melarangku bersenang-senang; aku telah menjadi penjaga penjaraku sendiri. 

Kesenangan terasa seperti jeruji yang hanya boleh kubuka ketika segala kewajiban telah selesai, sementara kewajiban dalam hidupku tumbuh seperti rumput liar — dipotong hari ini, tumbuh lagi besok. Aku belajar menunda kebahagiaan dengan begitu terampil sampai-sampai aku tidak lagi tahu apa yang sebenarnya kutunggu. Mungkin sebuah pekerjaan yang lebih baik. Mungkin tabungan yang cukup. Mungkin rumah yang lebih layak. Mungkin suatu hari ketika aku tidak perlu lagi menghitung harga sesuatu sebelum mengaku bahwa aku menyukainya. Tetapi hidup tidak pernah memberikan tanda bahwa hari itu akan tiba. Dan aku terus berdiri di ambangnya, dengan kedua tangan penuh perhitungan dan hati yang terlalu takut untuk meminta lebih.

Barangkali memang karena sejak kecil aku terlalu akrab dengan kata cukup. Cukup untuk hari ini. Cukup untuk makan. Cukup untuk membayar ini. Cukup untuk bertahan sampai besok. Kata itu tumbuh menjadi pagar yang tinggi di dalam kepalaku, sampai-sampai aku tidak lagi tahu bagaimana rasanya menginginkan sesuatu tanpa segera bertanya apakah aku pantas mendapatkannya. Bahkan kebahagiaan kecil pun terasa seperti barang mewah yang salah alamat, sesuatu yang seharusnya dikembalikan kepada pemiliknya karena aku tidak memiliki cukup uang untuk membelinya.

Mungkin itulah sebabnya aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana menerima cinta. Cinta terasa seperti sesuatu yang terlalu mahal untuk seseorang sepertiku — bukan karena cinta membutuhkan uang, melainkan karena sejak lama aku mengira segala sesuatu yang baik harus dibayar dengan sesuatu yang setara. Jika seseorang memberiku perhatian, aku merasa harus mengembalikannya. Jika seseorang memberiku waktu, aku merasa telah berutang. Jika seseorang menyayangiku, bagian paling gelap dalam diriku segera mencari harga yang harus kubayar agar kasih itu tidak pergi. 

Aku sulit percaya bahwa seseorang dapat tinggal tanpa meminta apa-apa. Sebab aku terlalu terbiasa hidup dalam dunia yang membuat segala kebutuhan terasa seperti transaksi. Maka ketika seseorang mengatakan bahwa aku layak dicintai, aku justru ingin bertanya: 

layak karena apa?” 

Apa yang sebenarnya kulakukan untuk pantas menerima itu? Aku tidak membawa rumah yang megah, tidak membawa kekayaan, tidak membawa masa depan yang dapat kujanjikan dengan mudah. Aku hanya membawa diriku sendiri — dan entah mengapa, sepanjang hidupku, itu terasa seperti barang bawaan yang terlalu ringan untuk ditawarkan kepada siapa pun.

Pun ada hari-hari ketika aku merasa seluruh hidupku hanyalah usaha untuk mengejar sesuatu yang terus berjalan beberapa langkah di depanku. Aku bekerja agar dapat hidup, hidup agar dapat bekerja lagi, lalu menyisihkan sedikit dari apa yang kudapat untuk berjaga-jaga jika kehidupan tiba-tiba memutuskan untuk menjadi lebih kejam. Aku seperti seseorang yang berjalan membawa ember bocor: setiap kali berhasil mengisinya, sebagian isinya telah hilang sebelum sempat kubawa pulang. 

Karena itu aku menjadi akrab dengan kecemasan yang tidak memiliki bentuk. Ia tidak selalu datang sebagai kepanikan; kadang ia hanya duduk diam di belakang kepalaku ketika aku hendak membeli sesuatu, ketika seseorang mengajakku pergi, ketika aku ingin beristirahat, ketika aku mendapati diriku bahagia terlalu lama. Bahkan kebahagiaan pun kadang terasa mencurigakan. Seolah-olah jika aku tertawa terlalu lepas, dunia akan segera datang membawa tagihan. Seolah-olah setiap kegembiraan yang kurasakan hari ini harus dibayar oleh kesusahan yang lebih besar esok hari. Aku menjadi manusia yang selalu menyimpan sedikit kesedihan untuk berjaga-jaga, seperti orang yang membawa payung bahkan ketika langit sedang bersih.

Namun yang paling melelahkan dari semua ini adalah aku tidak pernah merasa memiliki izin untuk berduka. Setiap kali ingin mengatakan bahwa hidup terasa berat, selalu ada suara di dalam kepala yang berbisik bahwa orang lain jauh lebih menderita. Maka aku belajar menelan kesedihan sendiri, seperti seseorang yang memasukkan surat-surat ke dalam botol lalu menghanyutkannya ke laut tanpa pernah berharap ada yang membacanya. 

Di satu sisi, dunia terlalu sering mengajarkanku bahwa manusia dapat dibaca dari benda-benda yang melekat padanya: rumah, pakaian, kendaraan, pendidikan, pekerjaan, uang yang tersimpan di rekening, bahkan makanan yang mampu ia pesan tanpa melihat angka di layar. Aku pun akhirnya belajar membaca diriku dengan cara yang sama. Aku melihat tanganku dan bertanya apa yang telah berhasil kubawa pulang. Aku melihat rumahku dan bertanya apakah tempat ini cukup layak untuk membuatku tidak malu. Aku melihat hidupku dan bertanya mengapa aku belum sampai sejauh orang lain. 

Padahal mungkin aku hanya sedang berjalan dengan beban yang tidak terlihat. Mungkin ada orang-orang yang dapat berlari karena kedua tangan mereka kosong, sementara aku berjalan perlahan karena sepanjang hidup aku harus membawa segala sesuatu yang tidak boleh jatuh: kebutuhan, ketakutan, keluarga, masa depan, dan harga diri yang tipis seperti kaca. Aku sering lupa bahwa lambat bukan berarti gagal. Tetapi kemiskinan membuatku terlalu akrab dengan rasa tertinggal, sampai-sampai aku mengira diriku memang dilahirkan untuk berada di belakang.

Namun aku masih di sini. Barangkali itulah satu-satunya hal yang dapat kukatakan tanpa merasa sedang membesar-besarkan diriku sendiri. Aku masih di sini, di antara bata-bata merah yang belum selesai menjadi rumah, di antara uang yang selalu terasa kurang, di antara keinginan-keinginan yang berkali-kali kupaksa diam, dan di antara rasa malu yang telah tumbuh terlalu dekat dengan tulang. Aku masih bisa menikmati sesuatu, meskipun setelahnya mungkin akan ada sedikit penyesalan. Aku masih bisa menyayangi seseorang, meskipun bagian dalam diriku terus berbisik bahwa aku tidak cukup. Aku masih dapat menatap layar, mendengar hujan, mencium aroma makanan dari dapur, tertawa pada sesuatu yang bodoh, dan untuk beberapa detik lupa bahwa hidup pernah begitu berat. 

Mungkin aku memang belum memiliki rumah yang kokoh; mungkin hidupku masih berupa dinding-dinding yang disusun dari bahan seadanya, tanpa kepastian akan sanggup bertahan menghadapi puluhan tahun yang akan datang. Tetapi mungkin manusia memang tidak selalu dibentuk oleh apa yang diwariskan kepadanya. Ada yang dibentuk oleh tanah subur, ada yang dibentuk oleh kemudahan, dan ada pula yang, seperti aku, dibentuk oleh retakan. Aku tumbuh bukan karena dunia memberiku cukup ruang, melainkan karena aku belajar memanjang ke sela-sela sempit yang masih tersisa. 

Dan jika suatu hari nanti aku akhirnya mampu merasa bahagia tanpa menghitung harganya, mampu menerima cinta tanpa mencari alasan mengapa aku pantas mendapatkannya, mungkin saat itu aku akan mengerti: bahwa selama ini yang berusaha kubangun bukan sekadar sebuah rumah, melainkan tempat di dalam diriku sendiri yang akhirnya bersedia berkata — kau boleh tinggal di sini, meski kau tidak memiliki apa-apa untuk dibuktikan.

Avatar
/ Published posts: 2

Penulis