Opini, Serba-serbi
October 10, 2026
43 views 26 mins 0

Ketika Menjadi Laki-Laki Berarti Harus Menyediakan: Menyoal Peran Gender dalam Relasi

Kalau Dia Laki-Laki, Masa Iya Tidak Membayar? Ada kalimat-kalimat sederhana yang terdengar seperticandaan, tetapi diam-diam membawa sebuah aturan. Laki-lakiharus membayar ketika berkencan. Laki-laki seharusnyamenjemput. Laki-laki harus menjadi pihak yang lebih banyakmenyediakan. Sementara perempuan cukup menerima, dilayani, atau sesekali membalasnya sebagai bentukpenghargaan. Tidak semua orang tentu berpikir demikian. Banyak pasanganjuga telah menjalani hubungan dengan pembagian peran yang jauh lebih fleksibel. Namun, anggapan bahwa laki-lakisemestinya menjadi pihak yang menyediakan masih mudahditemukan dalam cara kita membicarakan hubungan romantis. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar, “Siapa yang harusmembayar?” Ada pertanyaan yang lebih besar: mengapakemampuan menyediakan begitu mudah dilekatkan kepadalaki-laki? Ketika Laki-Laki Diharapkan Selalu Menyediakan Bayangkan dua orang yang sama-sama mahasiswa. Keduanyabelum memiliki penghasilan tetap. Ketika makan bersama, apakah selalu menjadi kewajiban laki-laki untuk membayar? Ketika hendak bertemu, apakah laki-laki harus selalumenjemput? Jika sekali waktu perempuan yang datangmenghampiri atau membayar makanan, apakah hubungantersebut menjadi kurang romantis? Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam inimemperlihatkan bahwa persoalannya bukan pada tindakanmembayar atau memberi itu sendiri. Memberi kepadapasangan tentu bukan sesuatu yang keliru. Bahkan, perhatianmemang sering kali diwujudkan melalui pemberian. Yang menarik adalah ketika tindakan tersebut berubah menjadikewajiban berdasarkan jenis kelamin. Seorang laki-laki dapat membayar karena ia ingin mentraktir. Ia dapat menjemput karena sedang memiliki waktu dan kesempatan. Ia dapat memberikan sesuatu karena inginberbagi. Namun, ketika semua itu dianggap sebagai sesuatuyang harus dilakukan karena ia laki-laki, pemberian tidak lagisepenuhnya menjadi pilihan personal. Di sana ada norma yang bekerja. Dengan kata lain, yang perlu dipertanyakan bukan mengapalaki-laki mau menyediakan, tetapi mengapa menjadi laki-lakimembuat seseorang dianggap lebih bertanggung jawab untukmenyediakan. Ketika “Laki-Laki” Datang Bersama Sebuah Tuntutan Menjadi laki-laki ternyata tidak selalu dipahami hanyasebagai identitas. Di dalam masyarakat, menjadi laki-laki juga sering disertai seperangkat harapan: kuat, mandiri, mampumelindungi, tidak mudah bergantung, dan mampubertanggung jawab secara ekonomi. Harapan tersebut merupakan bagian dari konstruksi gender. Gender bukan hanya berbicara tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga tentang bagaimanamasyarakat membentuk gagasan mengenai perilaku yang dianggap pantas bagi keduanya. Raewyn Connell menjelaskan bahwa maskulinitas berkaitandengan posisi laki-laki dalam relasi gender dan terbentukmelalui pola praktik sosial. Karena itu, maskulinitas tidakbersifat tunggal; ia dapat berbeda menurut tempat, waktu, dan konteks sosial. Salah satu bentuk maskulinitas yang memperoleh posisi kuat dalam banyak konteks adalahgambaran laki-laki sebagai sosok yang mandiri, kuat, dan mampu menjadi penyedia (Connell, 2005). Maka, ketika seorang laki-laki tidak mampu menyediakansesuatu, persoalannya kadang tidak berhenti pada kondisiekonomi. Ia juga dapat berhadapan dengan pertanyaan sosialtentang kelaki-lakiannya: “Masa laki-laki tidak bisa?” Di titik inilah tuntutan gender menjadi menarik. Sebab, laki-laki tidak hanya diminta untuk memiliki kemampuan, tetapijuga dapat dinilai berdasarkan kemampuan tersebut. […]

Opini, Serba-serbi
September 17, 2026
110 views 11 mins 0

Ekofeminisme: Ketika Bencana Datang, Mama Bingung Besok Makan Apa?

“Ketika alam kehilangan keseimbangannya, perempuan sering kali menjadi yang pertama merasakan akibatnya.” Ketika Alam Tidak Baik-Baik Saja Alam tidak pernah benar-benar berdiri di luar kehidupan manusia. Dari tanah kita mendapatkan pangan, dari air kita mempertahankan kehidupan, dan dari lingkungan sekitar kita membangun penghidupan. Namun, manusia sering memperlakukan alam seolah-olah ia tidak memiliki batas. Tanah dieksploitasi, […]

Isu, Opini, Serba-serbi
September 12, 2026
295 views 8 mins 0

Urgensi Inklusivitas dalam Gerakan

Berjalan dengan para aktivis gerakan mahasiswa maupun NGO, membuat saya yakin pengorganisasian yang melibatkan seluruh elemen masyarakat sipil adalah keniscayaan. Sebelum membangun gerakan yang mampu menjalankan fungsi check and balance kekuasaan, alangkah baiknya organisasi pergerakan yang menjadi kendaraan masyarakat sipil saat ini perlu dibenahi terlebih dahulu. Salah satunya yang sering menonjol adalah gaya aktivis abang-abangan, […]

Opini, Serba-serbi
August 13, 2026
178 views 10 mins 0

Politik Tanpa Rahim: Ketika Kebijakan Maskulin Menjauhkan Harapan Keadilan Gender

“Setiap perubahan kepemimpinan, kebanyakan orang memiliki secuil harapan mengenai perubahan, sama halnya dengan harapan mengenai kesetaraan gender akan lebih baik”. Apakah masih ada harapan mengenai perubahan, khususnya dalam membangun kesetaraan dan keadilan gender yang lebih baik di era Prabowo? Apakah janji yang diberikan tatkala pesta demokrasi akan terwujud? Apakah kekerasan terhadap perempuan dan anak akan […]

Opini, Serba-serbi
August 03, 2026
174 views 5 mins 0

Ragam Pengalaman pada Tubuh Perempuan

Tubuh perempuan seringkali menjadi ruang pertemuan antara aspek biologis, sosial, dan psikologis. Di satu sisi, tubuh perempuan memiliki realitas biologis yang tidak dapat dipisahkan dari pengalaman hidupnya, yaitu perempuan mengalami menstruasi, perubahan hormon, kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Pengalaman-pengalaman inilah yang merupakan bagian dari proses alamiah yang membentuk kehidupan perempuan. Menstruasi, misalnya, tidak hanya peristiwa fisik […]

Opini, Serba-serbi
July 28, 2026
287 views 56 secs 0

Keutamaan Ilmu bagi Perempuan: Sebuah Refleksi

Sejarah kehidupan manusia memberikan bukti bahwa perempuan bukanlah bayang-bayang. Mereka merupakan tiang peradaban. Terkhusus di timur terngah, seorang perempuan bernama Khadijah menopang risalah dengan kecerdasannya dalam ekonomi serta keberanian moralnya. Lalu ada Aisyah yang menjadi sosok rujukan hukum dan hadis, guru bagi para sahabat laki-laki. Tak lupa pada Fatimah, yang turut membentuk etika keadilan dan […]

Beauty and Health, Opini, Serba-serbi
February 21, 2025
1024 views 7 mins 0

Kejahatan di Balik Standar Kecantikan Kulit Putih

Kemajuan teknologi dan mudahnya bertukar informasi menggunakan internet membuat banyak perubahan di berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali dalam aspek sosial. Pada kehidupan sosial ini, manusia seakan dituntut untuk menjadi sama (atau bahkan seragam) dengan manusia lain. Padahal, hal ini tentunya bersifat subjektif dan sering kali berujung diskriminatif. Dalam pekerjaan, selain pembatasan usia yang kadang tidak […]

Opini, Serba-serbi
January 27, 2025
819 views 10 mins 0

Apa yang Salah dari Feminisme?

“Perempuan belajar bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk perbaikan tatanan masyarakat yang lebih baik.” Setiap tongkrongan, diskusi, dan guyonan, sering kali mendengar bahwa feminisme musuh dari laki-laki, dan hal tersebut diaminkan bagaikan doa yang tak pernah berhenti diucapkan dan menjadi kenyataan, bahwa seorang feminis anti-laki-laki. Dan itu menyebar ke penjuru pelosok negeri. Feminisme dianggap tak […]

Opini
January 21, 2025
643 views 5 mins 0

Femisida Semakin Marak, Bukti Maskulinitas Masih Rapuh di Indonesia

Femisida atau feminisida sering dikenal sebagai bentuk kekerasan yang berujung pada kematian perempuan. Dilansir dari Komnas Perempuan, femisida terjadi akibat adanya dorongan yang didasari kebencian, dominasi, dan pandangan misoginis yang ditujukan pada perempuan. Pembunuhan yang terjadi pada kasus femisida tidak dilihat hanya sebagai pembunuhan biasa. Femisida dalam konteks hukum dianggap kejahatan yang berbeda karena terdapat […]

Opini, Serba-serbi
September 02, 2024
642 views 5 mins 0

Sederet Perhatian yang Harus Dijalankan Perusahaan untuk Mewujudkan Kesehatan Pekerja Perempuan

Pemberlakuan yang tidak sesuai antara peraturan dalam Undang-undang dengan realitas masih sering terjadi. Khususnya saat ini banyaknya pekerja perempuan yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil dalam hal keselamatan kerja. Perempuan masih mendapatkan bentuk-bentuk diskriminasi seperti seksisme yang menggap bahwa perempuan adalah manusia kelas kedua dan minoritas, sehingga posisinya dianggap tidak begitu krusial karna tidak menguntungkan […]