56 views 56 secs 0 comments

Keutamaan Ilmu bagi Perempuan: Sebuah Refleksi

In Opini, Serba-serbi
July 28, 2026
Muslim women reading Quran in the mosque during the Ramadan

Sejarah kehidupan manusia memberikan bukti bahwa perempuan bukanlah bayang-bayang. Mereka merupakan tiang peradaban. Terkhusus di timur terngah, seorang perempuan bernama Khadijah menopang risalah dengan kecerdasannya dalam ekonomi serta keberanian moralnya. Lalu ada Aisyah yang menjadi sosok rujukan hukum dan hadis, guru bagi para sahabat laki-laki. Tak lupa pada Fatimah, yang turut membentuk etika keadilan dan keberpihakan pada yang tertindas. Dalam tradisi ulama pun, banyak perempuan yang memiliki peran penting. Walaupun keberadaannya sering disembunyikan oleh cerita dari sudut budaya patriarki, mereka tetap menjadi guru besar dalam hadis, fiqih, dan sastra.

Ketika perempuan mengejar ilmu, ia tidak sedang meninggalkan kodrat. Akan tetapi, ia justru sedang kembali pada fitrah Islam, yaitu berperan sebagai makhluk berakal. Tak hanya itu, Ilmu juga membebaskan perempuan dari ketakutan, membuka ruang kritik terhadap struktur yang menindas, dan mengembalikan martabat yang kadang direbut oleh tafsir sempit.

Perempuan yang berilmu adalah ancaman bagi tatanan patriarki, bukan karena ia merusak, melainkan karena ia menghadirkan keadilan. Ilmunya menjadi lentera yang memotong mitos, mengoreksi kekuasaan, dan menghidupkan kembali nilai Islam yang progresif: rahmah, setara, dan kemaslahatan.

Jika melakukan refleksi secara lebih dalam, mungkin kita perlu bertanya. Apakah kita membela Islam yang diturunkan Allah, atau hanya mempertahankan budaya yang membatasi manusia?

Islam yang sejati selalu berjalan seiring dengan ilmu dan perempuan. Karena peradaban hanya bisa tumbuh ketika perempuan dapat membaca dunia dan menulis masa depannya sendiri.

Putri Efara
/ Published posts: 1

Pegiat Perempuan Adat Suku Kuri, Tanah Papua