18 views 26 mins 0 comments

Ketika Menjadi Laki-Laki Berarti Harus Menyediakan: Menyoal Peran Gender dalam Relasi

In Opini, Serba-serbi
October 10, 2026

Kalau Dia Laki-Laki, Masa Iya Tidak Membayar?

Ada kalimat-kalimat sederhana yang terdengar seperticandaan, tetapi diam-diam membawa sebuah aturan. Laki-lakiharus membayar ketika berkencan. Laki-laki seharusnyamenjemput. Laki-laki harus menjadi pihak yang lebih banyakmenyediakan. Sementara perempuan cukup menerima, dilayani, atau sesekali membalasnya sebagai bentukpenghargaan.

Tidak semua orang tentu berpikir demikian. Banyak pasanganjuga telah menjalani hubungan dengan pembagian peran yang jauh lebih fleksibel. Namun, anggapan bahwa laki-lakisemestinya menjadi pihak yang menyediakan masih mudahditemukan dalam cara kita membicarakan hubungan romantis.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar, “Siapa yang harusmembayar?” Ada pertanyaan yang lebih besar: mengapakemampuan menyediakan begitu mudah dilekatkan kepadalaki-laki?

Ketika Laki-Laki Diharapkan Selalu Menyediakan

Bayangkan dua orang yang sama-sama mahasiswa. Keduanyabelum memiliki penghasilan tetap. Ketika makan bersama, apakah selalu menjadi kewajiban laki-laki untuk membayar? Ketika hendak bertemu, apakah laki-laki harus selalumenjemput? Jika sekali waktu perempuan yang datangmenghampiri atau membayar makanan, apakah hubungantersebut menjadi kurang romantis?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam inimemperlihatkan bahwa persoalannya bukan pada tindakanmembayar atau memberi itu sendiri. Memberi kepadapasangan tentu bukan sesuatu yang keliru. Bahkan, perhatianmemang sering kali diwujudkan melalui pemberian. Yang menarik adalah ketika tindakan tersebut berubah menjadikewajiban berdasarkan jenis kelamin.

Seorang laki-laki dapat membayar karena ia ingin mentraktir. Ia dapat menjemput karena sedang memiliki waktu dan kesempatan. Ia dapat memberikan sesuatu karena inginberbagi. Namun, ketika semua itu dianggap sebagai sesuatuyang harus dilakukan karena ia laki-laki, pemberian tidak lagisepenuhnya menjadi pilihan personal. Di sana ada norma yang bekerja.

Dengan kata lain, yang perlu dipertanyakan bukan mengapalaki-laki mau menyediakan, tetapi mengapa menjadi laki-lakimembuat seseorang dianggap lebih bertanggung jawab untukmenyediakan.

Ketika “Laki-Laki” Datang Bersama Sebuah Tuntutan

Menjadi laki-laki ternyata tidak selalu dipahami hanyasebagai identitas. Di dalam masyarakat, menjadi laki-laki juga sering disertai seperangkat harapan: kuat, mandiri, mampumelindungi, tidak mudah bergantung, dan mampubertanggung jawab secara ekonomi.

Harapan tersebut merupakan bagian dari konstruksi gender. Gender bukan hanya berbicara tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga tentang bagaimanamasyarakat membentuk gagasan mengenai perilaku yang dianggap pantas bagi keduanya.

Raewyn Connell menjelaskan bahwa maskulinitas berkaitandengan posisi laki-laki dalam relasi gender dan terbentukmelalui pola praktik sosial. Karena itu, maskulinitas tidakbersifat tunggal; ia dapat berbeda menurut tempat, waktu, dan konteks sosial. Salah satu bentuk maskulinitas yang memperoleh posisi kuat dalam banyak konteks adalahgambaran laki-laki sebagai sosok yang mandiri, kuat, dan mampu menjadi penyedia (Connell, 2005).

Maka, ketika seorang laki-laki tidak mampu menyediakansesuatu, persoalannya kadang tidak berhenti pada kondisiekonomi. Ia juga dapat berhadapan dengan pertanyaan sosialtentang kelaki-lakiannya: “Masa laki-laki tidak bisa?”

Di titik inilah tuntutan gender menjadi menarik. Sebab, laki-laki tidak hanya diminta untuk memiliki kemampuan, tetapijuga dapat dinilai berdasarkan kemampuan tersebut.

Dari Mana Datangnya Laki-Laki sebagai Provider?

Gagasan bahwa laki-laki merupakan provider ataubreadwinner bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja dalamhubungan romantis. Ia berkaitan dengan pembagian perangender yang lebih luas, terutama gagasan bahwa laki-lakibertanggung jawab atas penyediaan ekonomi sementaraperempuan lebih dekat dengan peran domestik dan perawatan.

Pembagian tersebut tidak dapat dilepaskan dari patriarki, yaitustruktur sosial yang secara historis berkaitan denganpembagian kerja yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Salah satu ciri yang banyak ditemukan dalamstruktur patriarki adalah pembagian kerja berdasarkan gender, yang menempatkan perempuan pada tanggung jawab lebihbesar atas pekerjaan domestik dan perawatan tidak berbayar, sementara laki-laki memiliki akses yang lebih besar terhadapsumber daya dan kesempatan ekonomi (Kabeer, 2025).

Dalam pembagian kerja berbasis gender, laki-laki lebih seringditempatkan pada ranah publik dan ekonomi, sementaraperempuan lebih dekat dengan pekerjaan domestik dan reproduktif, seperti mengurus rumah, merawat anak, menyiapkan makanan, dan berbagai pekerjaan perawatanlainnya. Pekerjaan-pekerjaan tersebut penting bagikeberlangsungan kehidupan sehari-hari, tetapi tidak selaludipandang sebagai bentuk kontribusi ekonomi karenasebagian besar tidak dibayar (Kabeer, 2025).

Dengan demikian, narasi laki-laki sebagai provider sebenarnya tidak berdiri sendiri. Ketika laki-laki ditempatkansebagai pihak yang menyediakan kebutuhan secara material, perempuan pada saat yang sama dapat ditempatkan sebagaipihak yang mengurus dan mempertahankan kehidupandomestik. Keduanya merupakan bagian dari pembagian peranyang sama.

Norma tersebut tentu tidak berlaku secara seragam pada semua masyarakat maupun semua pasangan. Namun, penelitian Gonalons-Pons dan Gangl terhadap pasanganheteroseksual menikah dan kohabitasi di 29 negara menunjukkan bahwa norma male-breadwinner dapat memilikikonsekuensi dalam kehidupan hubungan. Mereka menemukanbahwa hubungan antara pengangguran laki-laki dan risikoperpisahan lebih kuat dalam konteks negara yang memilikidukungan lebih tinggi terhadap norma laki-laki sebagaipencari nafkah utama (Gonalons-Pons & Gangl, 2021).

Temuan tersebut penting bukan karena berarti semua laki-lakiharus menjadi provider, melainkan karena menunjukkanbahwa norma gender dapat memberikan makna sosial tertentupada kondisi ekonomi seseorang. Di sinilah persoalannyamenjadi lebih kompleks. Kemampuan menyediakan bukanhanya soal uang. Ia dapat menjadi simbol tanggung jawab, keseriusan, bahkan kasih sayang.

Padahal, seseorang bisa mencintai tanpa selalu menjadi pihakyang membayar. Seseorang juga bisa bertanggung jawabtanpa selalu menjadi pihak yang menyediakan secara material. Jika demikian, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukankeberadaan peran provider itu sendiri, melainkan mengapaperan tersebut begitu mudah dianggap sebagai ukurankelayakan seorang laki-laki dalam sebuah hubungan.

Ketika Cinta Mulai Diukur dari KemampuanMenyediakan

Ada saat ketika pemberian berhenti menjadi bentuk kasihsayang dan mulai menjadi ukuran kasih sayang.

“Kalau sayang, harusnya dia mau membayar.”

“Kalau serius, harusnya dia bisa menyediakan.”

“Kalau laki-laki, masa menunggu dibayari?”

Kalimat-kalimat semacam itu memperlihatkan bagaimanakemampuan material dapat masuk ke dalam bahasa cinta. Kemampuan ekonomi perlahan menjadi salah satu cara untukmembaca keseriusan seseorang. Padahal, hubungan tidakhanya terdiri atas apa yang dapat dibeli.

Ada waktu yang diberikan. Ada perhatian. Ada usaha untukhadir. Ada kesediaan mendengarkan. Ada keberanian untukmeminta maaf. Ada dukungan ketika pasangan sedang beradapada kondisi sulit. Ada pula kemauan untuk berkembangbersama. Ketika hanya kemampuan menyediakan yang diberinilai lebih tinggi, kontribusi lain yang tidak berbentuk uang berisiko menjadi tidak terlihat.

Di sisi lain, perempuan juga dapat ditempatkan dalam posisiyang sama-sama dibatasi oleh konstruksi tersebut. Jika laki-laki selalu ditempatkan sebagai pihak yang memberi dan perempuan sebagai pihak yang menerima, keduanya sama-sama kehilangan kemungkinan untuk menjalani hubungandengan peran yang lebih lentur.

Namun, pembatasan tersebut tidak selalu bekerja dengan carayang sama bagi laki-laki dan perempuan. Ketika laki-lakidianggap harus menyediakan, perempuan dapat ditempatkanpada posisi sebagai pihak yang menerima penyediaantersebut. Dalam jangka panjang, posisi ini dapat membuatkontribusi perempuan yang tidak berbentuk materi menjadikurang terlihat. Pekerjaan merawat, mengurus kebutuhansehari-hari, memberikan dukungan emosional, atau pekerjaandomestik lainnya dapat dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan perempuan, bukansebagai bentuk kontribusi yang memiliki nilai. Kajian mengenai gendered mental labor menunjukkan bahwapekerjaan rumah tangga dan pengasuhan juga memilikidimensi kognitif yang tidak selalu terlihat, dan beban tersebutsecara tidak proporsional lebih sering ditanggung perempuan(Reich-Stiebert et al., 2023).

Di sinilah narasi provider perlu dilihat lebih jauh. Persoalannya bukan hanya bahwa laki-laki dibebani tuntutanuntuk mampu secara ekonomi, melainkan juga bahwapembagian tersebut dapat membuat bentuk kontribusi tertentumenjadi lebih dihargai daripada yang lain. Kemampuanmenghasilkan dan menyediakan uang terlihat sebagaikontribusi yang nyata, sementara kerja perawatan yang memungkinkan kehidupan sehari-hari tetap berjalan seringkali tidak terlihat karena tidak selalu menghasilkanpendapatan (Kabeer, 2025).

Karena itu, jika konstruksi gender hendak dibicarakan secarautuh, pertanyaannya tidak cukup berhenti pada “mengapalaki-laki harus menyediakan?”. Kita juga perlu bertanya, “apa yang terjadi ketika perempuan ditempatkan sebagaipihak yang seharusnya menerima dan merawat?” Sebab, keduanya merupakan bagian dari konstruksi yang sama.

Hubungan Bukan Transaksi: Ketika Cinta Ikut Diukurdengan Logika Ekonomi

Kita sering berbicara tentang kesetaraan dalam hubunganseolah-olah ia dapat dihitung seperti pembagian tagihan: siapamembayar makan, siapa membeli hadiah, siapa lebih seringmenjemput. Seakan-akan hubungan yang adil adalahhubungan yang neracanya selalu seimbang.

Di titik tertentu, cara berpikir seperti ini menarik untuk dibacabersama dengan struktur ekonomi yang lebih luas. Kajian tentang social reproduction, misalnya, melihat bahwakehidupan sehari-hari, keluarga, pengasuhan, dan kerjaperawatan tidak berdiri sepenuhnya di luar struktur ekonomi. Kerja perawatan membantu mempertahankan kehidupan dan kemampuan manusia untuk menjalani aktivitas ekonomi, sehingga ia tidak dapat dipisahkan begitu saja dari caramasyarakat mengatur kerja dan sumber daya (Jones, et al., 2025).

Kapitalisme tentu bukan satu-satunya penjelasan mengapalaki-laki ditempatkan sebagai provider. Norma tersebut juga dibentuk oleh sejarah pembagian peran gender dan strukturpatriarki yang menempatkan laki-laki dan perempuan dalamperan sosial yang berbeda. Karena itu, kapitalisme dan patriarki lebih tepat dipahami sebagai struktur yang dapatsaling berkelindan dalam mempertahankan pembagiantersebut. Penelitian tentang relasi produksi dan reproduksi di pedesaan Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bagaimanapraktik patriarki dapat berhubungan dengan proses akumulasikapital melalui kerja reproduktif dan pembagian kerjaberbasis gender (Pattenden, 2023).

Dalam kerangka ini, kemampuan laki-laki untuk memperolehpendapatan dan menyediakan kebutuhan material dapatmenjadi ukuran kontribusi yang lebih mudah terlihat. Pada saat yang sama, pekerjaan domestik dan reproduktif yang banyak dibebankan kepada perempuan dapat berlangsungtanpa upah dan tanpa selalu dianggap sebagai bentuk kerjayang setara. Makanan yang tersedia, pakaian yang bersih, rumah yang terurus, serta pengasuhan tidak muncul begitusaja; semuanya membutuhkan waktu dan tenaga. Namun, ketika pekerjaan tersebut dilekatkan sebagai “peranperempuan”, kontribusinya dapat menjadi tidak terlihat(Kabeer, 2025).

Dengan demikian, logika provider tidak hanya menghasilkantekanan bagi laki-laki untuk mampu secara ekonomi. Ia juga dapat mempertahankan pembagian kerja yang membuatkontribusi perempuan dalam ranah domestik kurang dihargai. Kapitalisme kemudian dapat memperkuat situasi tersebutketika kemampuan menghasilkan dan membeli sesuatu lebihmudah dikenali sebagai bentuk kontribusi dibandingkanpekerjaan perawatan yang tidak menghasilkan upah secaralangsung. Hubungan antara kapitalisme dan social reproduction sendiri menunjukkan bahwa kerja reproduktiftidak berada di luar struktur ekonomi, melainkan berkelindandengan proses produksi dan kehidupan ekonomi (Kienscherf& Thumm, 2024).

Akibatnya, kemampuan menyediakan secara material dapatdibaca sebagai bentuk kontribusi yang paling nyata. Laki-lakiyang mampu membayar dianggap lebih bertanggung jawab; pasangan yang mampu memberikan lebih banyak dianggaplebih serius. Padahal, tidak semua yang bernilai dalamhubungan dapat dibeli. Waktu, perhatian, dukunganemosional, kesediaan mendengarkan, dan kemauan untukhadir ketika keadaan sulit semuanya memiliki nilai, meskipuntidak selalu memiliki harga.

Karena itu, persoalannya bukan apakah pasangan bolehmembayar atau saling memberi. Persoalannya adalah ketikahubungan mulai diperlakukan seperti neraca: siapa yang memberi lebih banyak dianggap lebih mencintai, sementarasiapa yang menerima lebih banyak dianggap lebih berharga.

Kesetaraan tidak harus berarti lima puluh-lima puluh dalamsetiap kesempatan. Hari ini seseorang mungkin membayarmakan karena memiliki uang lebih. Besok pasangannyamembayar kopi. Di waktu lain, salah satunya mungkinmemberikan lebih banyak karena pasangannya sedangmembutuhkan.

Yang dibutuhkan bukan perhitungan yang selalu sama, melainkan mutualitas: kedua orang memiliki ruang untukmemberi, menerima, mengambil keputusan, berinisiatif, dan berkontribusi.

Bisakah Dua Orang Saling Menopang?

Mungkin sudah waktunya kita membayangkan hubunganromantis sedikit berbeda.

Bukan sebagai ruang di mana laki-laki menjalankan tugasnyasebagai laki-laki dan perempuan menjalankan tugasnyasebagai perempuan. Bukan pula sebagai hubungan yang setiapbentuk pemberiannya harus dihitung secara matematis.Melainkan sebagai pertemuan dua individu yang sama-samamemiliki kemampuan untuk memberi dan menerima.

Hubungan seharusnya memungkinkan seseorang untuktumbuh tanpa harus kehilangan dirinya demi memenuhi perangender. Laki-laki tidak harus selalu kuat hanya karena ia laki-laki. Perempuan tidak harus selalu menjadi pihak yang menerima hanya karena ia perempuan.

Sebab, pada akhirnya, yang membuat sebuah hubunganbertahan bukanlah siapa yang paling banyak menyediakan, melainkan apakah keduanya masih memiliki ruang untuksaling menopang.

Mungkin pertanyaannya memang bukan lagi, “Laki-lakiharus membayar atau tidak?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Bisakah kitamembangun hubungan di mana dua orang tidak sibukmembuktikan siapa yang seharusnya memberi lebih banyak, tetapi sama-sama belajar bagaimana cara bertumbuhbersama?”

Sri Suryani Mimah
/ Published posts: 2

Mahasiswa biasa yang suka minum matcha!