Aku mengenal banyak perempuan yang tumbuh seperti halaman rumah di musim hujan. Mereka dipijak agar orang lain dapat sampai ke tujuan, tetapi tak pernah benar-benar dipandang. Sejak pertama kali belajar mengeja namanya sendiri, dunia telah lebih dahulu menuliskan takdir di atas pundaknya. Ada yang dititipi wajan sebelum sempat menggenggam buku, ada yang diajari mengayun buaian sebelum sempat mengayunkan cita-cita, dan ada yang dipersiapkan menjadi pelabuhan bagi begitu banyak kapal, tanpa pernah ditanya ke mana sebenarnya ia ingin berlayar. Seolah-olah menjadi perempuan berarti bersedia menjadi tanah: diinjak, ditanami, dipanen, lalu kembali menunggu musim berikutnya.
Maka tubuhnya perlahan berubah menjadi ruang yang selalu tersedia. Kedua tangannya menjelma tungku yang tak boleh padam, dadanya menjadi jendela tempat anak-anak mencari teduh, dan punggungnya berubah menjadi rak tua yang diam-diam memikul segala beban rumah. Orang-orang menyebut semua itu pengabdian. Padahal tak jarang yang mereka saksikan hanyalah lilin yang terus dipaksa menyala, sementara tubuhnya sendiri telah lama mencair menjadi genangan yang tak lagi dikenali bentuknya.
Di luar rumah, angin pun membawa bahasa yang serupa. Mata-mata asing beterbangan seperti burung gagak, hinggap di rambutnya, di pinggangnya, di lengkung wajahnya, mematuk-matuk harga dirinya hingga tersisa bulu-bulu sunyi yang tak terlihat oleh siapa pun. Dunia gemar mengukur perempuan layaknya pedagang mengukur kain; cukup panjangkah senyumnya, cukup haluskah kulitnya, cukup indahkah tubuhnya untuk dipandang. Tak banyak yang bertanya apakah hatinya sedang menguar, sebab uap tidak pernah tampak di cermin yang sibuk memantulkan rupa.
Tak ayal cinta datang membawa sekeranjang bunga. Namun diam-diam, di sela harum kelopaknya, terselip seutas tali yang begitu halus hingga nyaris tak terasa mencekik trakea. Sedikit demi sedikit langkahnya dipendekkan, suaranya dipelankan, mimpinya dilipat seperti surat lama yang disimpan di dasar laci. Ia masih disebut kekasih, masih dipanggil dengan nama yang manis. Namun, perlahan hidupnya menyerupai burung yang dipuji karena nyanyiannya, sementara sangkar di sekelilingnya adalah jeruji berpoles rayu.
Barangkali yang paling pilu bukan ketika perempuan diperlakukan seperti benda, melainkan ketika ia mulai memoles dirinya sendiri agar tampak layak dimiliki. Ia meminta maaf karena lapar, karena lelah, karena ingin berjalan lebih jauh dari halaman yang telah digambar orang lain untuknya. Ia belajar mengecilkan suaranya seperti sungai yang dipaksa mengalir di dalam botol. Hingga suatu hari ia lupa bahwa air dicipta untuk menemukan lautnya sendiri, bukan untuk selamanya tinggal di dalam bejana yang sempit.
Padahal perempuan tidak pernah lahir sebagai perabot yang mengisi sudut rumah, bukan pula pohon yang buahnya boleh dipetik tanpa lebih dulu menyentuh batangnya dengan hormat. Ia adalah hutan yang menyimpan hujan, langit yang menyimpan fajar, dan laut yang menyimpan kedalaman yang tak selesai diukur oleh mata manusia. Ada badai yang tumbuh di dalam dadanya, ada matahari yang setiap pagi ia nyalakan sendiri, dan ada ribuan doa yang diam-diam ia kuburkan agar orang lain dapat terus percaya bahwa hidup ini baik-baik saja.
Mungkin itulah sebabnya raganya terasa seperti bejana pilu. Sebab terlalu banyak tangan datang membawa dahaga, lalu meminum habis kasih yang ia simpan tanpa pernah mengisi kembali bejana itu. Mereka mengira bejana akan selalu penuh, sebab selama ini perempuan pandai menyembunyikan retaknya. Padahal setiap retak menyimpan bunyi yang lirih. Bunyi yang hanya terdengar ketika malam telah begitu sunyi, ketika semua orang terlelap, dan seorang perempuan memeluk dirinya sendiri seperti cawan tanah yang berusaha menahan air, memastikan dirinya tidak melebur dalam tekanan.
